Senin, 06 Agustus 2012

Wong Fei Hung my Idol

Wong Fei Hung. Pahlawan Islam dari China.

Wong Fei Hung. Pahlawan Islam dari China.

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri.

Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin.

KEPITING BERTULISKAN KATA ALLAH

Inilah tanda kebesaran ALLAH

PINGIN KHUSUK

Pinginku khusuk menghadap Allah
waktu kini atau nanti
dalam bentang alam nan Maha Luas
Aku tersungkur malu...atas semua dosa
ALLAHUMA ANTA RABBI LA ILAHA ILLA ANTA KHALAQTANI
WA ANA ABDUKA, WA ANA ALA AHDIKA, WAWA'DIKA MA TATHA'TU
A UDZUBIKA MIN SYARRI MA SANA'TU ABU ULAKA BINIKMATIKA ALAYYA
WA ABU BI DZANBI FAGHFIRLI, FAINNAHU LAA YAGHFIRU DZUNUBA ILLA ANTA

Minggu, 01 Juli 2012

Menjadilah Rumah Idaman

Menjadilah rumah idaman
bila di dalamya setiap saat kita bisa membagi cinta
memahami kekurangan pasangan dengan kesabaran, 
karena itu semua pasti akan digantikan Tuhan nanti dengan kesempurnaan

Menjadilah rumah idaman
bila dalam dekapnya kita selalu bisa merasakan setiap kelebihan AnugerahNya
saling memaafkan setiap kesulapan
dan mengerti bahwa tidak semua hal selalu berjalan sesuai keinginan

menjadilah rumah idaman
bila didalamnya ada pemimpin yang saleh dan bertanggungjawab
ada istri yang salehah yang taat pada suaminya
ada anak-anak manis yang menjadi penyejuk pandangan dan penyenang hati


Menjadilah rumah idaman 
bila perintah Allah selalu ditegakkan
ibadah menjadi candu yang selalu harus dinikmati oleh semua anggota keluarga
dan berbagi sesama seperti kebiasaan mandi pagi yang segar
sementara tetangga dan tamu selalu dimuliakan dengan berabagai hiasan keikhlasan

dan menjadilah rumah idaman

Jumat, 01 Juni 2012

Anakku 1

Anakku
hari ini air matamu jatuh membasahi bajuku
hanya karena kamu kalah dalam kompetisi itu
aku tahu
air mata itu jatuh sebab cintamu padaku
yang tak ingin aku kecewa sedikit jua
anakku
tahukah engkau, betapa air matamu tadi
jauh lebih berarti dan membahagiakanku
dari sejuta penghargaan yang mungkin akan kau terima bila kau menang
sebab dengan air mata itu
engkau telah tunjukkan siapa dirimu
dan engkau ajari ayahmu ini
lebih menyayangi kalian
anakku
jangan pernah putus asa, sebab kesempatanmu masih panjang terbentang
engkau pasti akan jadi orang besar
yang jauh lebih hebat dari ayahmu bahkan
asalkan engkau tetap pelihara air matamu itu
yang mengalir penuh berisi cinta dan bakti