Kemain, seorang bapak mengeluh kepada saya tentang perilaku anaknya yang sangat mempermalukannya. Menurutnya anaknya sulit sekali diatur, dalam usianya yang masih belasan tahun, sang anak sudah sangat gemar bermaksiat, terutama main judi dan mabuk miras. Saat dinasehati bukannya menurut, sang anak malah melawan, dan tak mau berhenti dari kebiasaan buruknya.
Saya mendengarkan dengan seksama keluhan yang panjang lebar ia sampaikan. Dan setelah ia puas bercerita, sampai mukanya yang kusut menjadi agak lega. Sayapun gantian bertanya kepadanya.Tentang apakah dia pernah juga kecanduan miras dan judi atau bahkan sampai sekarang masih sering melakukannya? Dengan malu-malu dia menjawab bahwa memang sampai sekarang dia masih sering minum miras dan main judi, tapi cuma sekali-kali katanya. Tidak seperti dulu. Maka kemudian solusi sederhanapun saya sampaikan padanya, agar dia berhenti total dulu dari miras dan judi, bertaubat. Baru kemudian dia akan dapat menasehati dan menyelamatkan anaknya dari kehancuran judi dan miras bahkan dari semua kehancuran.
Wahai bapak, pemimpin rumah tangga, begitulah sebuah contoh sederhana yang selalu kita hadapi tentang sebuah kendala terbesar dalam mendidik anak-anak kita. Ketauladanan, ya krisis ketauladanan. Yang mereka butuhkan bukan cuma nasehat, bukan cuma larangan agar jangan berbuat ini dan itu dalam menghindari sebuah prilaku buruk. tapi yang lebih mereka butuhkan adalah ketauladanan.
Bagaimana kita melarang anak kita merokok, sedangkan kita sendiri seorang perokok berat.
Bagaimana kita mencegahnya agar jauh dari miras dan judi sedangkan kita sendiri melakukan itu.
bagimana kita menyuruhnya Shalat dan puasa sedangkan kita sendiri tidak shalat dan tidak pusa tanpa malu. Berikan contoh kepada mereka, berikan teladan kepada mereka, maka merekapun akan mengikuti perkataan dan nasehat kita
Sabtu, 05 Mei 2012
Rabu, 02 Mei 2012
Senin, 30 April 2012
Buah Hati
Sebuah keluarga yang berkecukupan tinggal disebuah kota. Sang
ayah adalah seorang manajer pada sebuah perusahaan terkenal dengan gaji yang
sangat tinggi, sementara isterinya bekerja pada sebuang Bank swasta dengan gaji
yang juga lumayan tinggi. Anak mereka hanya dua orang yang satu sudah sekolah
lanjutan pertama sedangkan yang kecil masih duduk dibangku SD.
Sebagai orang
terpandang tentu mereka memilihkan sekolah-sekolah “favorit” yang ada dikota
itu untuk anak-anak mereka, dengan sistem belajar yang lagi booming saat ini.
Sistim fullday. Sekolah satu hari penuh. Sekoah P4, Pergi pagi pulang petang. Tak perduli dengan seberapa mahal bayarannya, bukanlah menjadi masalah.
Saat menjelang senja anak-anak baru pulang sekolah, Ayah
belum pulang sedang ada rapat katanya. Ibu baru pulang tapi kelelahan dan
tertidur di sofa. Saat memasuki pintu rumah nan mewah sesungguhnya hati sang
anak sangat ingin bercerita kepada kedua
orang tuanya tentang peristiwa seru yang terjadi disekolahnya tadi. Tapi
jangankan bercerita, menyapa saja mereka takut kena marah karena tahu orang
tuanyasangat lelah dan tak mau di
ganggu.Akhirnya merekapun memilih diam, atau mengeluh kepada pembantu rumah
tangga yang selalu setia mendengarkan.
Gambaran keluarga yang seperti ini plus cara mendidik anak
yang diterapkan dengan hanya membayar sekolah fullday untuk menjaga mereka, sekarang
sudah sangat umum kita lihat. Bahkan menjadi trend bagi kalangan tertentu. Dan hasilnya adalah seorang anak yang mungkin
cerdas, pintar tetapi kering akan sentuhan kasih sayang kedua orang tuanya.
Seorang anak yang kehilangan nilai-nilai keluarga sehingga menjadi tidak
sensitif, dan cenderung menjadi generasi acuh. Dan dalam kondisi parah bisa
saja kemudian dia akan mencari kasih sayang lain dijalanan, mencari pengertian
itu di tempat-tempat lain yang bisa dia dapatkan.
Sebab itu.......
Sesibuk apapun kita, mari kita sisihkan waktu kita sebanyak-banyaknya untuk mereka.... buah hati kita
Untuk mengajari mereka mengenal Tuhannya, mengajari mereka ngaji dan berakhlak, mendongeng satria bagi pribadi-pribadi seputih mereka. Sehingga akan terbentuklah pribadi yang paripurna yang pasti suatu saat akan membanggakan kita, orang tuanya. Jangan serahkan pembentukan anak hanya kepada orang lain, walaupun kita mampu membayar seribu maha guru. Sebab mereka adalah anak-anak kita, kitalah yang paling bertanggungjawab terhadap masa depan mereka.
Minggu, 29 April 2012
Melakukan Terbaik Mendapatkan Terbaik
Pernah saat memberikan ceramah pada suatu pengajian ibu-ibu tentang kewajiban seorang istri pada suaminya,saya diprotes habis oleh seorang ibu. Karena ia menganggap apa yang saya sampaikan tentang bagaimana Rasulullah Muhammad SAW membina kasih sayang didalam rumah tangganya tidak sesuai dengan kodisi real saat ini. Contoh konkritnya adalah apa yang ia hadapi. Dimana dia memiliki seorang suami yang jauh dari sifat-sifat Rasul sebagai suami yang sempurna. Suaminya lebih kerasan nongkrong diwarung kopi setriap hari dari pada bekerja, atau berkumpul dengan keluarga dirumah berbagai cinta dan kasih. Lalu masih pantaskah seorang suami yang seperti dihargai dan dihormati!!!
Saya langsung menjawabnya dengan sederhana. Perlu. Ya.... suami yang semacam ini, atau istri yang semacam ini bila ada, perlu tetap dihormati dan dihargai. Bahkan bila perlu paqsangan yang seperti ini harus diberi penghormatan, penghargaan dan pelayanan yang "terbaik" oleh kita. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi Suami atau istri yang seperti itu menjadi begitu karena selama ini dirinya tidak mendapatkan yang terbaik dirumahnya, tidak mendapatkan pelayanan terbaik, penghormatan dan penghargaan terbaik. Sehingga iapun mencari itu semua diluar rumah. Diwarung kopi, di kafe-kafe. di karaoke, tempat hiburan malam, dijalan-jalan atau ditempat-tempat lainnya.
Tapi pasangan saya memang lain, dia memang tidak pernah memperhatikan kami, tidak bertanggungjawab, suka bohong, egois, dan seterusnya, dan seterusnya, pokoknya memang pasangan saya tidak bisa diharapkan. Saya sudah coba melayani tetapi dia selalu kurang terima, selalu salah-selalu salah.
Jika demikianpun keadaannya, maka tetaplah berikan yang terbaik. Sebab terkadang kita merasa sudah .
memberikan yang terbaik, namun sesungguhnya itu hanyalah suara ego kita, suara ketidak ikhlasan kita. Yang sebenarnya kita bahkan belum melakukan apa-apa, belum melakukan yang terbaik untuk pasangan kita dan keluaraga kita, namun disaat yang sama kita telah sangat mengharapkan sebuah imbal balik dari mereka semua. Dan ketika imbal balik itu, apapun bentuknya, tidak kita dapatkan. Maka kitapun menjadi kecewa. lalu merasa mereka tidak adil, sudah zalim dan menyakiti kita.
Membangun keluarga tidak akan pernah sukses ketika kita masih mengedepankan ego kita masing-masing. Menunggu pasangan kita berbuat yang terbaik untuk kita dan keluarga adalah sesuatu yang salah. Tetapi memulai melakukan sesuatu yang terbaik bagi pasangan dan keluarga adalah sebuah langkah yang sangat bijak. Sebab hanya orang orang yang selalu melakukan tindakan terbaik, yang pasti akan mendapatkan balasan yang terbaik pula, cepat atau lambat.
Saya langsung menjawabnya dengan sederhana. Perlu. Ya.... suami yang semacam ini, atau istri yang semacam ini bila ada, perlu tetap dihormati dan dihargai. Bahkan bila perlu paqsangan yang seperti ini harus diberi penghormatan, penghargaan dan pelayanan yang "terbaik" oleh kita. Mengapa demikian? Sebab bisa jadi Suami atau istri yang seperti itu menjadi begitu karena selama ini dirinya tidak mendapatkan yang terbaik dirumahnya, tidak mendapatkan pelayanan terbaik, penghormatan dan penghargaan terbaik. Sehingga iapun mencari itu semua diluar rumah. Diwarung kopi, di kafe-kafe. di karaoke, tempat hiburan malam, dijalan-jalan atau ditempat-tempat lainnya.
Tapi pasangan saya memang lain, dia memang tidak pernah memperhatikan kami, tidak bertanggungjawab, suka bohong, egois, dan seterusnya, dan seterusnya, pokoknya memang pasangan saya tidak bisa diharapkan. Saya sudah coba melayani tetapi dia selalu kurang terima, selalu salah-selalu salah.
Jika demikianpun keadaannya, maka tetaplah berikan yang terbaik. Sebab terkadang kita merasa sudah .
memberikan yang terbaik, namun sesungguhnya itu hanyalah suara ego kita, suara ketidak ikhlasan kita. Yang sebenarnya kita bahkan belum melakukan apa-apa, belum melakukan yang terbaik untuk pasangan kita dan keluaraga kita, namun disaat yang sama kita telah sangat mengharapkan sebuah imbal balik dari mereka semua. Dan ketika imbal balik itu, apapun bentuknya, tidak kita dapatkan. Maka kitapun menjadi kecewa. lalu merasa mereka tidak adil, sudah zalim dan menyakiti kita.
Membangun keluarga tidak akan pernah sukses ketika kita masih mengedepankan ego kita masing-masing. Menunggu pasangan kita berbuat yang terbaik untuk kita dan keluarga adalah sesuatu yang salah. Tetapi memulai melakukan sesuatu yang terbaik bagi pasangan dan keluarga adalah sebuah langkah yang sangat bijak. Sebab hanya orang orang yang selalu melakukan tindakan terbaik, yang pasti akan mendapatkan balasan yang terbaik pula, cepat atau lambat.
Jumat, 27 April 2012
Memiliki dan Mencintai
"Bila engkau tidak dapat memiliki apa yang engkau cintai, maka cintailah apa yang engkau miliki."
Entah kapan dan darimana pertama sekali saya menemukan kalimat yang menurut saya sangat indah ini. Sayapun lupa, dari sumber bacaan mana atau catatan siapa. tapi yang jelas sejak pertama kali saya menemukannya sampai sekarang kalimat itu masih terus tertancap dalam pemikiran saya.
Realitasnya kita memang sering mengalaminya. Sering kita amat mencintai dan menginginkan sesuatu menjadi milik kita tetapi hal itu tidak dapat terpenuhi karena berbagai faktor. Termasuk saat kita menetapkan hati hendak mencari pasangan hidup yang akan kita pilih sebagai pendamping hidup dunia akhirat idealnya. Tatkala kita mengarahkan hati kepada Aminah belum tentu Aminahlah yang kemudian menjadi jodoh kita, demikian tatkala kita mengarahkan hati pada Aisyah, eh ternyata Aminahlah yang kemudian kita nikahi.
Dalam kondisi itu cepat atau lambat hati kita sering berbolak balik, wajar karena memang itu bagian dari fitrah. Dan dalam keadaan parah kondisi itupun kadang bisa menjadi badai dalam sebuah biduk rumah tangga yang memukul berkali-kali sehingga membuat kita panik karenanya.
Jalan hidup yang kita jalani terkadang memang tidak selalu sama dengan pengharapan dan keinginan kita. Termasuk dalam hal jodoh.Tapi sesungguhnya jodoh kita saat ini, istri atau suami kita saat ini, itulah ketetapan Tuhan yang terbaik bagi kita, Kedhaifan kita saja yang menjadi penyebab kita tak mampu mendeteksi kesempurnaan pilihan Tuhan itu.
Maka bagi siapapun yang mungkin hari ini berjodoh dengan orang yang sesungguhnya bukan pilihan utama hatinya dulu. Berbahagialah. Sebab Tuhan, Allah Swt, sangat mengasihimu, dengan telah memilihkanmu jodoh yang terbaik menurutNya. Karena itu, bila engkau tidak dapat memiliki apa yang engkau cintai, maka cintailah apa yang engkau miliki.
Entah kapan dan darimana pertama sekali saya menemukan kalimat yang menurut saya sangat indah ini. Sayapun lupa, dari sumber bacaan mana atau catatan siapa. tapi yang jelas sejak pertama kali saya menemukannya sampai sekarang kalimat itu masih terus tertancap dalam pemikiran saya.
Realitasnya kita memang sering mengalaminya. Sering kita amat mencintai dan menginginkan sesuatu menjadi milik kita tetapi hal itu tidak dapat terpenuhi karena berbagai faktor. Termasuk saat kita menetapkan hati hendak mencari pasangan hidup yang akan kita pilih sebagai pendamping hidup dunia akhirat idealnya. Tatkala kita mengarahkan hati kepada Aminah belum tentu Aminahlah yang kemudian menjadi jodoh kita, demikian tatkala kita mengarahkan hati pada Aisyah, eh ternyata Aminahlah yang kemudian kita nikahi.
Dalam kondisi itu cepat atau lambat hati kita sering berbolak balik, wajar karena memang itu bagian dari fitrah. Dan dalam keadaan parah kondisi itupun kadang bisa menjadi badai dalam sebuah biduk rumah tangga yang memukul berkali-kali sehingga membuat kita panik karenanya.
Jalan hidup yang kita jalani terkadang memang tidak selalu sama dengan pengharapan dan keinginan kita. Termasuk dalam hal jodoh.Tapi sesungguhnya jodoh kita saat ini, istri atau suami kita saat ini, itulah ketetapan Tuhan yang terbaik bagi kita, Kedhaifan kita saja yang menjadi penyebab kita tak mampu mendeteksi kesempurnaan pilihan Tuhan itu.
Maka bagi siapapun yang mungkin hari ini berjodoh dengan orang yang sesungguhnya bukan pilihan utama hatinya dulu. Berbahagialah. Sebab Tuhan, Allah Swt, sangat mengasihimu, dengan telah memilihkanmu jodoh yang terbaik menurutNya. Karena itu, bila engkau tidak dapat memiliki apa yang engkau cintai, maka cintailah apa yang engkau miliki.
Kamis, 26 April 2012
Kesetiaan 2
Sebab Setia
Sewaktu saya belum berumah tangga, pernah seorang bapak bertanya kepada saya tentang apa penyebab dari kelanggengan sebuah rumah tangga. dan dengan penuh keyakinan saya menjawab bahwa "cinta" lah yang menjadi sebab kelanggengan sebuah rumah tangga. Namun Dengan penuh kearifan Bapak itu menolak jawaban saya, katanya jawaban saya salah. Menurutnya bukanlah cinta yang menyebabkan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga, bukanlah cinta yang menyebabkan keluarga bisa awet sakinah mawaddah wa rahmah.
Saya protes. Tapi dia malah tersenyum. Menurutnya anak-anak keturunanlah yang menyebabkan sebuah keluarga itu langgeng. Sedangkan cinta itu cuma omong kosong, cuma perasaan yang dibuat-buat dan berlebih-lebihan, kalaupun cinta itu ada, katanya. Maka sesungguhnya ia cuma sebuah bagian dari sifat inkonsistensi yang tak pernah stabil. Buktinya apa yang kita puja dan cinta kemaren, belum tentu hari ini masih kita puja dan kita cinta. Pasangan kita yang kita anggap paling sempurna kemaren bisa jadi besok kita lihat sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan dan sifat buruk yang sangat tidak kita suka, dan karenanya kita sudah tidak lagi cinta. Apalagi ketika kita lihat orang lain yang lebih sempurna, gagah atau cantik. Maka anehnya cinta itupun bisa berkhianat, membawa kita lari dari pasangan-pasangan kita yang sudah dipilihkan Allah. Setuju atau tidak....terserah kita. Ini toh cuma pendapat bapak-bapak zaman dulu.
Menurutnya anak-anaklah yang menyebabkan keluarga itu bisa bertahan selama-lamanya. sampai batas umur tiba. Karena segala sesuatu yang terjadi menghantam bahtera rumah tangga, akan teredam ombaknya demi anak-anak yang hakekatnya merupakan hasil cinta.
Katanya...
kita akan terpaksa menerima apapun kekurangan pasangan kita demi anak-anak, demi sang buah hati. Kenakalan dan keliaran hati kita yang bernama cinta menjadi jinak tatkala kita menatap mata lugu anak-anak kita dan membayangkan mereka akan jadi kebanggan-kebanggan dimasa depan.
Merekalah penghilang lelah kita, mata air semangat yang tak pernah kering, dan motivasi kita memeras pikiran dan keringat untuk sebuah taraf kehidupan yang disebut sejahtera.
Merekalah malaikat-malaikat kecil yang selalu menjaga kita agar tetap bekerja dijalan yang benar,
menegur kita kala hendak bermaksiat dan mengawasi kesetiaan kita dengan perasaannya yang amat sangat lembut, selembut salju putih yang tak bernoda.
Merekalah gembala yang mengikat kita pada tiang-tiang kesetiaan
Jadi anaklah segala-galanya, dan yang menjadi penyebab sesungguhnya bagi kelanggengan sebuah rumah tangga.
Wallahua'lam.
Sewaktu saya belum berumah tangga, pernah seorang bapak bertanya kepada saya tentang apa penyebab dari kelanggengan sebuah rumah tangga. dan dengan penuh keyakinan saya menjawab bahwa "cinta" lah yang menjadi sebab kelanggengan sebuah rumah tangga. Namun Dengan penuh kearifan Bapak itu menolak jawaban saya, katanya jawaban saya salah. Menurutnya bukanlah cinta yang menyebabkan langgeng tidaknya sebuah rumah tangga, bukanlah cinta yang menyebabkan keluarga bisa awet sakinah mawaddah wa rahmah.
Saya protes. Tapi dia malah tersenyum. Menurutnya anak-anak keturunanlah yang menyebabkan sebuah keluarga itu langgeng. Sedangkan cinta itu cuma omong kosong, cuma perasaan yang dibuat-buat dan berlebih-lebihan, kalaupun cinta itu ada, katanya. Maka sesungguhnya ia cuma sebuah bagian dari sifat inkonsistensi yang tak pernah stabil. Buktinya apa yang kita puja dan cinta kemaren, belum tentu hari ini masih kita puja dan kita cinta. Pasangan kita yang kita anggap paling sempurna kemaren bisa jadi besok kita lihat sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan dan sifat buruk yang sangat tidak kita suka, dan karenanya kita sudah tidak lagi cinta. Apalagi ketika kita lihat orang lain yang lebih sempurna, gagah atau cantik. Maka anehnya cinta itupun bisa berkhianat, membawa kita lari dari pasangan-pasangan kita yang sudah dipilihkan Allah. Setuju atau tidak....terserah kita. Ini toh cuma pendapat bapak-bapak zaman dulu.
Menurutnya anak-anaklah yang menyebabkan keluarga itu bisa bertahan selama-lamanya. sampai batas umur tiba. Karena segala sesuatu yang terjadi menghantam bahtera rumah tangga, akan teredam ombaknya demi anak-anak yang hakekatnya merupakan hasil cinta.
Katanya...
kita akan terpaksa menerima apapun kekurangan pasangan kita demi anak-anak, demi sang buah hati. Kenakalan dan keliaran hati kita yang bernama cinta menjadi jinak tatkala kita menatap mata lugu anak-anak kita dan membayangkan mereka akan jadi kebanggan-kebanggan dimasa depan.
Merekalah penghilang lelah kita, mata air semangat yang tak pernah kering, dan motivasi kita memeras pikiran dan keringat untuk sebuah taraf kehidupan yang disebut sejahtera.
Merekalah malaikat-malaikat kecil yang selalu menjaga kita agar tetap bekerja dijalan yang benar,
menegur kita kala hendak bermaksiat dan mengawasi kesetiaan kita dengan perasaannya yang amat sangat lembut, selembut salju putih yang tak bernoda.
Merekalah gembala yang mengikat kita pada tiang-tiang kesetiaan
Jadi anaklah segala-galanya, dan yang menjadi penyebab sesungguhnya bagi kelanggengan sebuah rumah tangga.
Wallahua'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)